Monday, September 7, 2015

LIRIK #2


Minggu ini saya menyelesaikan sebuah lirik lagu lagi. Pertama kali diperdengarkan ke sang vokalis hari minggu kemarin, pas lagi syuting untuk sebuah project yang kebetulan talentnya adalah beliau. Lalu entah bagaimana tiba-tiba foto alay diatas ini pun muncul.

***

RENJANA

Kabut hilang
Pengasih terbakar
Hingga arang
Tak memberi kabar

Tentang duka
Temu yang ditebang
Berpusara
Di hening belukar
Dibungkam kelakar
Merambat mengakar

Renjana…

Dimanakah
Rindu bersemayam
Jika cinta
Tak lagi diselam
Ditinggal semalam
Geladak temaram


Renjana…

Monday, August 17, 2015

GUNTUR TUJUH PULUH




Tanggal 1 ampe 2 Agustus lalu, saya diajak kakak ipar saya tracking ke gunung Guntur di Garut. Karena deket-deket ama momen 17 Agustus, inisiatif deh bawa bendera. Siapa tahu bisa bikin karya yang bisa ikut meramaikan momen 17an-nya itu. So, ini link videonya dan transkrip narasinya. Cekidot


***

Ada peluh yang terlanjur menjadi candu
Tatkala riak sebuah kelana
Beranjak menjadi notasi tentang melepaskan dan menemukan

Bersama guntur yang tengah berdegup kencang
Dan langgam alam yang terdengar jauh lebih menjanjikan
Ketimbang janji-janji lindap tentang perestroika di bawah sana

Untuknya saat ini
Kami yang hina dengan selalu mengeluh lelah tanpa pernah mengambil langkah
Menjejaki tanah gambut berpilar belukarmu ini
Mencari diri
Seraya melabuhkannya pada sesuatu yang ikut bangkit bersama kelambu kabutmu pagi ini

Selalu ada jalan berkelok untuk sesuatu yang elok
Selalu ada tanah menanjak untuk sesuatu bernama puncak

Dan demi jarum dalam tumpukan jeraminya itu
Maka untuk setiap pilu
dan darah yang tidak pernah berhenti diseka di tengah ini
Tidak pernah ada lagi
Cinta yang lebih heroik
Selain tubuh-tubuh yang tidak pernah berhenti berbuat hingga hari ini

Saat ini

Untuk setiap tanah dan airnya negeri ini

Sebuah nirwana,
tempat semesta kirana bersemayam

***


Sunday, July 19, 2015

MELIRIK LIRIK

Saya cukup keliru soal mengira bahwa menulis lirik lagu adalah pekerjaan yang mudah; karena pada kenyataannya, terhitung sejak folks music project iseng saya dan kawan saya resmi direncanakan, telah 3 kali saya mencoba menciptakan lirik untuk beberapa lagu awal yang sudah mulai terbentuk tapi hasilnya selalu tidak memuaskan, terasa “kosong”, “gak ada nyawanya” dan sebagainya. Perlu diakui bahwa berbeda dengan proses menulis sastra atau artikel biasanya yang pada dasarnya memang berdiri secara otonom, lirik lagu diciptakan untuk disandingkan dengan potongan kue estetika lainnya yaitu musik. Maka selain pertimbangan ekspresi, ada pertimbangan lain yang sifatnya teknis seperti rima, ritme, keseuaian kosakata dan pertimbangan integrasinya yang perlu dipikirkan juga walaupun tak sekompleks video atau film. Hasilnya, perlu tiga kali penyesuaian bagi saya untuk akhirnya bisa tiba pada rangkaian tulisan yang bisa sedikit saya akui sebagai sebuah lirik.

#LirikPertama
Di penghujung Juni lalu, saya mendapat undangan menjadi pembicara di salah satu acara di Surabaya sebagai seorang independent filmmaker. And for the sake of the joy, saya mengundang beberapa kawan lainnya untuk ikut, serta memilih mobil pribadi sebagai moda transportasinya dengan pertimbangan fleksibilitas perjalanan. Hasilnya tepat, perjalanan tidak pernah sedikitpun terasa membosankan, dan suatu saat, ketika kami merasa perlu menepi untuk sekadar berfoto atau membeli jajanan khas, kami bisa menepikan kendaraan kami kapan saja. Termasuk menepikannya saat kami mencapai sebuah tempat menakjubkan di daerah Pati Jawa Tengah, sebuah dataran sawah yang terhampar luas di puluhan kilometer jalan kami; senyap, sangat puitis; dan menjadi semakin syahdu saat sisa-sisa matahari terbenam masih terlihat membekas di ujung-ujung langitnya. Sangat menakjubkan.



Beberapa minggu setelahnya, saya kembali dengan usaha saya untuk menuliskan lirik. Pengalaman spiritual yang menakjubkan itu menjadi perbendaharaan emosi terbesar saya yang saya rujuk kali ini. Hasilnya? tidak terlalu buruk. Walaupun terasa masih meraba-raba, tapi paling tidak, menurut saya kali ini ada “sesuatu” di dalamnya hehe. Dan barangkali karena alasan historis, entah bagaimana saya merasa mendokumentasikan lirik pertama ini di sini menjadi cukup penting hehe :D

So this is it...  

LANGGAM LEMBAYUNG

Song #1
Di kala jingga
Melantun barat
Sejumput cinta
Menyulam arah

Lembayungku...

Di ujung senja
Tersirat pinta
Tuk menantinya
Kembali kelak

Lembayungku...

Reff :
Segera pulang
Kelana mega
Nafasku hilang
Di tampuk rimba

Song #2
Di jelang petang
Menderu haru
Kau gemintang
Semesta syahdu

Lembayungku...

Reff :
Segera pulang
Kelana mega
Nafasku hilang
Di tampuk rimba

Segera pulang
Sajak senduku
Rinduku berang
Diganggu pilu


 ***

Saturday, June 20, 2015

RENJANA

Hari pertama di bulan puasa, hari ketika kekhidmatan telah mulai memayungi mereka yang tengah berjalan mencari Tuhan dalam dirinya; ketika segala kesyahduan dan sekian juta cinta mulai mengiringi mereka yang tengah bermesraan dengan kontemplasi tentang mikro semestanya, untukku, ia rupanya telah mengejawantah menjadi kepulangan yang tengah kutempuh ini. Sederhana saja dan aku telah tiba pada rasa yang entah sudah berapa juta kali aku berseteru dan gagal menujunya. Keberjarakkanku dengan hiruk pikuk pertempuran klasik antara idealisme dan realitasku yang sejak kemarin, dan tengah kucurigai barangkali akan begitu seterusnya, mengusir nyenyak tidurku.

Dan sekali lagi, tanpa pernah terlintas sedikitpun dalam dugaanku, selayaknya jelaga pada setiap kuali yang tengah terbakar, ia telah bertengger di pundakku dalam caraku yang terlampau sangat sederhana ini. Berjalan pulang; menuju rumah tempat segala entitasku bermula, tempat aku sering tertegun dulu dan terbangun tatkala aroma gorengan pisang yang dimasak ibu telah menyurupi lubang hidungku. Ia di jalan ini, di tanah-tanah gersang dengan sekian jejak sepatu lamaku yang nyaris lenyap dan tengah aku terka sekarang ini.

“Aku bukan lupa atau enggan untuk sekedar kembali kesini. Aku selalu tahu bahwa kalian akan tetap mencintaiku sekalipun dalam kebinatanganku, tetap memelukku sekalipun aku tengah berlumuran tinja. Hanya saja, seandainya aku memilih terus berada di sini, bersama kalian, samudera kesempurnaanku; aku takut bahwa aku telah merasa memiliki segalanya lalu berhenti melakukan pencarian dan pembuktian konyolku ini. Kebodohanku itu, ia yang telah menjadi satu-satunya hal yang paling tersisa dari rengekan diriku atas kebersediaanku melanjutkan usiaku ini Bu.”

Sahutku pada abstraksi-abstraksiku tatkala santap berbuka petang itu telah tuntas kuhabiskan bersama keluargaku. Mereka yang saat ini tengah berhasil kembali meleburkan diriku pada rasa yang telah sangat lama tidak aku temui ini. Kekosongan yang mengisiku penuh. Kehadiran yang tengah meniadakanku.

Rumah,
18 Juni 2015


***



Friday, June 12, 2015

KATA ORANG

#
Hidup di Jakarta itu susah

DIALOG IMAJINER : PULANG

 EXT. KOMPLEK PEMAKAMAN, DAY
… keduanya pun melangkah pulang selepas prosesi pemakaman sanak saudaranya tersebut selesai.

ANAK :
“Seandainya kita memang berasal dari Tuhan, lalu untuk apa kita harus susah payah berpisah dan pulang kembali kepada-Nya ayah?”

AYAH :
“Berpisah?
Aku baru tahu jika manusia pernah berpisah dengan Tuhan.”

***