Monday, January 13, 2014

PEMUDA DAN PEREMPUAN DI PUNCAK GUNUNG 2

|Seorang pemuda yang tinggal di kaki gunung, dianggap aneh oleh seluruh desa lantaran telah jatuh cinta pada seorang gadis yang belum pernah sekalipun ia temui. Gadis tersebut tinggal di puncak gunung. Dan kabar-kabar yang dibawakan orang hulu tentangnya lah yang telah membuatnya tergila-gila pada gadis tersebut. “Gadis itu bernama Dewi”,“Ia cantik dan anggun”,“Ia selalu mengenakan selendang berwarna putih”.     
Suatu hari, saat pemuda tersebut sedang berada di pinggir sungai, sebuah selendang berwarna putih, hanyut melintas di depannya. Pemuda tersebut mengambilnya, mengamatinya sebentar dan segera setelah itu ia berjingkrak gembira karena merasa yakin bahwa selendang yang ia temui tersebut adalah milik sang gadis puncak gunung. Ia berlari mengelilingi desa dan terus berteriak gembira, “Aku memilikinya!! Selendang putih milik gadis pujaanku!!”. Dan seluruh desa yang telah mengenalnya hanya tersenyum dan membiarkannya.
Di hari-hari berikutnya, pemuda tersebut kembali ke sungai itu dan kini ia menemukan sepatu yang terhanyut. Ia mengambilnya, “Ini sepatunya miliknya!” dan segera berlari pulang, menyimpan sepatu tersebut di dalam rumahnya. Dan begitulah seterusnya, hari-harinya ia lewati. Mengumpulkan semua benda yang terhanyut dari hulu sungai. Semua benda tanpa ada pengecualian; keranjang buah-buahan, kendi dan bahkan sampah serta benda-benda kotor yang telah rusak tetap ia punguti dengan penuh cinta dan ia kumpulkan dengan seluruh kegembiraan. “Ini miliknya, darinya, gadis pujaanku! Cintaku”. Sejak saat itu, seluruh desa menganggapnya gila.
***
| Karunia dan musibah; berapa banyak orang yang mampu berterimakasih di keduanya? Tetap bersyukur bukan hanya di saat ia mendapatkan sesuatu saja tapi juga di saat ia kehilangan sesuatu? Karena mungkin kita pun termasuk ke dalam bagian orang-orang yang hanya berbahagia di saat mendapat keuntungan saja? Marah di saat kita ditimpa musibah, dan dengan gegabah menjudge Tuhan tidak pernah adil?
Jadilah pemuda gila itu. Mencintai Tuhan tanpa harus perlu bertemu dengan-Nya. Meyakini keberadaan-Nya sekalipun ia hanya berupa “kabar” dari para “penduduk hulu”. Tergila-gila pada-Nya sekalipun seluruh desa telah menganggapmu gila karena-Nya.        
Karena hanya dengan kecintaan itu; hanya dengan menyadari bahwa segala yang kita dapat adalah dari-Nya,“Sang Pujaan” itu, kita bisa menerima segalanya, menyambut segalanya dengan kebahagiaan. Selendang putih itu, atau juga kumpulan sampah itu; sepatu itu, atau juga benda-benda usang itu; karunia berlimpahmu itu, atau juga hantaman-hantaman musibahmu itu.

Kesiapan kita untuk menghadapi apapun yang ada di hadapan kita. Sebuah ketenangan, sesuatu yang mungkin tidak dapat dimiliki oleh siapapun yang tidak mempercayai-Nya. Mereka yang barangkali akan lebih cepat memilih mati. Mereka yang telah kehilangan cinta. 
Post a Comment