Tuesday, January 14, 2014

BELAKANGAN INI DI RUANG TA

|Beberapa hari belakangan ini, ruang Tugas Akhir nampak menjadi hal yang cukup menarik bagi saya. Ia tiba-tiba saja berubah menjadi ruang tempat pembicaraan tentang agama dan Tuhan tidak pernah hilang. Kadang ia terdengar sangat sekuler, dan kadang juga menjadi sangat mistis; kadang ia menjadi sebuah perdebatan tajam dan kadang juga ia berupa curhatan kecil antar kita.
Dan mungkin semua itu memang berawal dari ini, buku-buku filsafat dan teologi yang belakangan ini saya sengajakan bawa ke kampus. Filsafat moral, filsafat ilmu, filsafat mistis, kosmologi Islam, Ibnu Arabi, Mulla Shadra, Murtadha Muthahhari atau juga sufisme-sufisme lainnya. Semua itu saya bawa untuk keperluan Tugas Akhir yang kebetulan memang tengah saya dalami kembali untuknya.
Dan entah apakah karena manusia-manusia ini memang ditakdirkan untuk senang berbasa-basi atau mungkin juga karena persoalan Tuhan dan agama memang selalu menjadi bagian dari tanda tanya pemikiran yang sangat menarik, yang membuat hampir setiap kawan yang memasuki ruang TA dan menemukan tumpukan buku-buku saya akan memulai pembicaraan dengan, “ini buku lu?”, “buat apaan?”, “buset, berat banget dah bacaannya?”, “lu baca sufistik Islam juga ya?”; dan berikutnya setelah saya menjawab “buat bikin film”, “konsep tugas akhir”, tidak ada yang menyadari bahwa tiba-tiba saja kami telah berada dalam perbincangan intens soal Tuhan dan agama. Dan sesaat setelah perbincangan itu dimulai, ruang Tugas Akhir seperti telah resmi berubah menjadi ruang konseling TA. Tuhan dan Agama. Lengkap dengan antrian di ujung pintu. Tertib secara bergantian. Senior saya dan junior saya; yang Islam dan yang Kristen; yang bertuhan dan yang masih mencari-Nya; keluarga yang straight dan keluarga yang liberal lantaran kedua orang tuanya memang berbeda agama; yang terang-terangan membuka perbincangan dan yang terlebih dulu berdalih meminta lagu-lagu Bon Iver serta lagu-lagu folks lain yang sering diputar dari ruang TA.  
“Sejarah pertikaian agama adalah sejarah politis” kataku. Ia muncul saat salah satu darinya mulai merasa harus menguasai satu yang lainnya. Persoalan kekuasaan, fanatisme, berebut pengaruh. Bahkan friksi terbesar dalam sejarah Islam – Sunni dan Syiah – sepanjang sepengetahuan saya dipelopori atas dasar perebutan kekhalifahan pasca kematian Muhammad saw. Kasus lain, penentangan Iran terhadap Israel pun tidak bisa dengan serta merta diartikan sebagai bentuk kebencian Islam terhadap agama Yahudi. Zionisme bukanlah gerakan spiritual ataupun agama. Ia adalah bentuk penjajahan, dan Iran menentang penjajahan itu. Selalu seperti itu, “Pertikaian antar agama selalu didasari oleh motif-motif politik yang bersembunyi di balik bendera agama. Itulah titik permasalahannya, politisasi! Bukan agamanya!”.
Lupakan dimensi itu, lalu kita akan berhadapan dengan agama dan Tuhan dalam makna spiritualitasnya. Bahwa Eksistensi Tuhan adalah The Ultimate Reason, dan ajaran agama adalah hukum dan moralitas tertinggi. Ia adalah postulat-postulat dalam kajian moralitas yang memberi tawaran pada manusia agar tidak hanyut dalam kontemplasi nihil yang terus menerus. Sesuatu yang oleh Kant disebut dengan corrollarium (kesimpulan) budi praktis. Ia yang akan mengisi kekosongan makna saat manusia mulai bertanya tentang asal, tujuan, dan persoalan-persoalan esensial lainnya seputar penciptaan. Penolakan terhadap postulat-postulat itu, memungkinkan manusia berada dalam ketidakpastiannya, ketidaktenangannya, dan pada titik ekstrimnya dapat memunculkan kegilaan dan motivasi bunuh diri. Seperti saya pada waktu-waktu itu mungkin, pertengahan SMA. Culture shock dan tiba-tiba saja saya berubah menjadi seorang nihilis; Marxis, seseorang yang tak mempercayai konsepsi metafisik apapun. Stoisis, anti kemapanan, seseorang yang dapat dengan lantang berteriak “Persetan dengan ajaran Aristippus!!”, “Hedonis-hedonis anjing!!”. Di saat-saat itu, saya tidak mampu menemukan makna hidup. Saya tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan esensial tentangnya. Dan berikutnya kegelisahan itu sempat memunculkan motivasi-motivasi bunuh diri dalam pikiran saya, hingga kemudian, penerimaan terhadap konsepsi Tuhan datang menyelamatkan.
Atas pembicaraan tentang kebenaran dan sikap terhadap keterbedaan yang muncul diantara kami, saya lebih suka menganalogikan agama dengan makanan. Saat saya merasa bahwa nasi goreng adalah makanan ternikmat di dunia, saya tidak bisa memaksakan kawan saya yang tidak suka nasi goreng dan lebih suka mie instant untuk mengatakan bahwa nasi goreng adalah makanan terenak. Kenikmatan, spiritualitas adalah soal rasa, soal selera, soal kepercayaan, soal hati kita. Ia kadang tidak bisa disematkan pada persoalan mana yang lebih benar atau mana yang lebih “bergizi”. Toh pun seandainya memang diperdebatkan, bukankah kebenaran tunggal hanya milik Tuhan? Dan sekalipun Tuhan yang berbicara, bukankah agama pada akhirnya hanyalah berupa tafsir-tafsir manusia, makhluk-makhluk yang hanya mampu meraba-raba dan merumuskan kemungkinan-kemungkinan saja? Dan seandainya seperti itu, bukankah fanatisme sebagai bentuk klaim paksa terhadap kebenaran menjadi satu tindakan penghinaan terhadap Tuhan Sang Pemilik Kebenaran? Jadi sekarang siapa yang harus disebut kafir?
Keyakinan adalah sesuatu yang abstrak. Ia erat kaitannya dengan pengalaman intrinsik. Sesuatu yang hanya bisa dimengerti oleh masing-masing dari kita saja. Saya mempercayai bahwa cara ibadah yang berbeda tidaklah berarti bahwa diantara kita ada yang benar dan ada yang salah. Seperti halnya ketika saya tidak bisa begitu saja mengklaim bahwa jalur yang ditempuh kawan saya menuju Cirebon adalah salah hanya karena saya berangkat dari Bandung dan kawan saya berangkat dari Jakarta. Banyak jalan menuju Roma. Tuhan tetaplah Tuhan sekalipun disembah dengan berbagai cara. Sang Maha Besar yang tidak akan menjadi kecil sekalipun disebut dengan nama-nama yang berbeda.

***

Soal kebenarannya?
Entahlah. Saya hanya bisa
mempercayai kemungkinan-kemungkinan itu.



Post a Comment