Monday, September 21, 2015

LELAKI RIMBA YANG TERSESATI BELANTARA



Entah apa yang tengah melucuti dan menelanjangi segala jubah kedigdayaanku, terkadang seperti saat ini, aku merasa bahwa mimpi hanyalah sisa-sisa hasrat kekanakkan yang luput terdewasakan; sedang kenyataan adalah ayah tiri yang pada akhirnya akan paling menentukan ya atau tidaknya.

Sebutlah kemana aku akan mengarah, aku yang dulu, akan melantang “Mahameru! Negerinya para dewa! Disanalah mimpiku akan kujemput”. Tapi hari ini? Entah. Aku tidak tahu. Aku tersesat. Tetiba aku menjadi manusia tanggung saja. Pendaki yang terlalu ragu untuk kembali turun tapi juga terlalu takut untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan lain di balik belantara di depannya.

Entah karena aku yang memang salah terka barangkali. Kukira menguasai banyak hal adalah cara terbaik untuk menjadi utuh, nyatanya ia hanyalah sekat berperekat sagu yang memudahkanku dipecahkan berkeping-keping saja. Kukira membuat jalan sendiri dengan memangkas belantara akan mempercepat lajuku, nyatanya ia hanya membuatku berputar-putar dan tersesat di tengahnya saja. Kukira mendengarkan beberapa kicauan maya selama berjalan akan membuatku merasa bersemangat, nyatanya ia hanyalah kawan semu yang tak pernah benar-benar mengusir senyap di sampingku. Aku tidak tahu itu.

Aku benar-benar tidak tahu. Kemana dan bagaimana aku harus menjadi saat ini, yang kutahu aku hanyalah keping pecahan yang berjalan tersesat sendirian. Keliru dan tak lagi bisa membedakan mana yang bisa dinikmati dan mana yang harus diludahi.

Aku yang kini hanya sekedar ini, lelaki rimba yang tengah tersesati belantara; yang saat ini hanya bisa menunggu selain menanti, setibanya apapun, yang barangkali mau berbaik hati menunjukkan arah, terlebih menjadi alasan dan perasaan terbaik untuk menuju.

***
Post a Comment