Sunday, September 20, 2015

ALIF KECIL DAN KERANJANG TISUNYA




Diantara gelak tawa yang menyurupi tiap ubun-ubun kala itu dan kegembiraan tentang menjadi berhala sesaat untuk setiap hidangan malam itu, ia adalah sebuah pengecualian. Tubuh mungil dengan sekeranjang tisu di muara lengannya, yang selalu bergidik tatkala keriangan ditanyakan kepadanya.

“Aku meninggalkannya di sudut rahim ibuku sesaat sebelum terlahir. Memintanya untuk bertahan dan tetap menunggu dengan bersabar hingga aku kembali kelak.”

adalah ujarnya untuk para tuan yang berjanji akan membeli tisunya seandainya ia mau bercerita; berulang tiga, lima hingga sekian belas kali hanya agar tisu-tisunya habis terjual. Satu-satunya sampan untuknya berlayar pulang, menuju rumah yang sebetulnya pun, tak pernah sepenuhnya menjadi rumah.

“Entahlah, aku tidak mengerti apa yang kalian katakan tentang keluargaku, yang kutahu ayahku adalah seorang dermawan. Ia seringkali meminta semua uang ibuku hanya agar ia bisa membayarkan tunggakan sekolah para gadis di warung berlampu remang di sana jika kalian perlu tahu.” kilahnya.

“Walaupun terlihat agak kasar ketika ia mencambuki ibuku jika periuk nasi tidak berhasil diisi lagi, tapi bukankah kalian pun telah lebih dulu tahu, bahwa cinta selalu punya banyak cara?” lanjutnya.

Keluguan itu; tak ada satupun yang benar-benar lebih tersesat darinya selain hati kecil sang pencerita itu sendiri. Ia yang harus tetap memilih begitu sekalipun kenyataan terpahitnya telah lama mendewasakannya; sekalipun mata yang mengacuhinya telah lama menjadi hal yang paling ingin ditikamnya.

“Kita tidak sedang menjual tisu nak. Kita sedang menjual ketakutan; kegagalan dan citra-citra terburuk dari hidup seorang manusia nak.”

Nada-nada itu kembali mengianginya lagi.

“Beberapa masih membutuhkan itu hanya agar mereka bisa menakuti anak-anak mereka untuk mau belajar dan mencari arahnya; memaknai apa yang telah dipunyainya; atau juga agar mereka bisa tetap ingat bahwa negeri yang tengah dipijaknya saat itu adalah narasi terbesar yang belum terselesaikannya.  

Kita adalah nada-nada sumbang yang harus ada untuk memaknai suara parau mereka nak; muntahan yang harus keluar bersama racun dari tubuh mereka; anjing-anjing kotor yang harus terus mencuri sarapan mereka tiap pagi agar mereka mau beranjak dan berlari mengejar sesuatu dalam hidupnya.

Dan untuk segala tanggung jawab peran itu, pengorbanan untuk menjadi kita itu; yang kutahu, tak pernah ada lagi yang cukup kuat menanggungnya selain diri kita sendiri nak.”

Jadi berhentilah mengatakan bahwa dirimu tidak berguna.”

Bisik sang ibu, di hembus terakhir yang paling menghantam dan paling diingatnya. Tempat keriangannya disemai yang kini meninggalkannya sendirian di ceruk terdalam keterasinganannya.

Dialah ia.
Alif kecil yang tergenang di kubangan kota.

Mencari remah roti di tepian iba sebuah pesta.

***       


Post a Comment