Saturday, November 23, 2013

LILIN KECIL

Ibunya cukup terkejut ketika anak semata wayangnya yang nampak tergesa-gesa, tiba-tiba saja mengatakan bahwa ia akan pergi jauh dan tidak akan kembali pulang.
“Memangnya kau hendak kemana nak? Kau hanya anak berumur 9 tahun yang bahkan untuk pergi ke sekolah saja masih harus diantar”
Anaknya hanya tersenyum. Sambil kemudian menceritakan tentang pertemuannya tadi.
“Sesaat yang lalu seorang lelaki tiba-tiba menghampiriku bu. Ia menawariku 3 buah cokelat ajaib yang harus kupilih salah satunya.
Jika aku memilih dan memakan cokelat pertama, ia mengatakan bahwa aku bisa mendapatkan kekuasaan apapun yang aku inginkan. Sedangkan jika kupilih cokelat kedua, ia mengatakan bahwa aku bisa mendapatkan seluruh harta yang ada di dunia ini bu.”   
Sang Ibu menajamkan garis dahinya. Ia mencoba mencerna lebih dalam cerita yang dimaksud anaknya.
“Lalu kau memilih cokelat yang mana?”
Sang anak terdiam sebentar.
“Aku memilih cokelat ketiga.”
“Cokelat ketiga? Apa yang akan terjadi jika kau memilih cokelat ketiga nak?”
Raut wajah anaknya menegas.
“Aku akan menjadi sebuah lilin bu.”
“Lilin?!”  Ibunya semakin terkejut mendengar itu.
“Di sebuah tempat di pelosok yang jauh, ada seorang anak yang kelak akan menjadi orang besar bu. Ia adalah satu-satunya orang yang kelak akan paling mampu memanfaatkan kekuasaan dan harta apapun yang ada di dunia ini.
Saat ini, setiap malam, di meja belajarnya, ia selalu menyalakan sebuah lilin sebagai penerangan untuknya selagi membaca dan belajar.
Dan lelaki tadi mengatakan bahwa jika aku memilih cokelat ketiga, aku bisa mendapatkan kehormatan untuk menjadi salah satu dari sekian banyak lilin yang ia nyalakan tiap malam itu.”
Bola mata ibunya mulai bergenang. Sang anak masih melanjutkan
“Sekalipun hanya sebagai sebuah lilin kecil, sekalipun tubuhku harus sakit terbakar; bahkan sekalipun untuk hidupku yang hanya semalam, aku hanya ingin menjadi berarti bu.”
                                                                ***

   
Post a Comment