Tuesday, November 26, 2013

HUJAN SOREKU



Dan seperti pada waktu-waktu yang lalu,
setiap kali aku tiba di tempat ini, ia selalu disana.
Di sebuah persimpangan.

Dengan sebuah flute yang selalu ia mainkan saat anak-anak lusuh
itu telah berkumpul untuknya.
Tiga, lima belas, tujuh puluh enam dan hari ini bahkan ia mengajak
beberapa ekor kucing untuk bergabung. Tak mengherankan.
Kudengar setiap pagi ia sering menyisakan remah roti di meja
makannya hanya agar beberapa semut bisa membawanya pulang.

Ada yang selalu kutunggu darinya setiap sore.
Sebuah ritus kecil, saat rambut sebahunya mulai digodai angin.
Saat rok selututnya mulai menari-nari kecil di ujung-ujung kulitnya.
Candu itu, membuatku diam-diam harus selalu menjatuhkan beberapa
koin di hadapannya. Memesan teh sepanas mungkin,
dan menunggunya dingin tanpa kutiup sedikitpun.
Bahkan saat telah menjadi dingin, ia tetap kuminum seolah-olah
ia masih sangat panas. Berulang-ulang kulakukan hanya agar
aku bisa duduk di kursi warung ini.
Tempat terbaik untuk mengaguminya.

“Kau adalah alfabet pada tiap buku cerita yang mengisahkan
tentang kebaikan. Kau adalah nada keempat pada sederetan nada lima notasi.
Sebuah blue note. Muses untuk setiap mereka yang
tengah diperangi apartheid jalanan.” Kataku

***

Post a Comment