Friday, July 19, 2013

LIPATAN WAKTU

Einstein pernah bermimpi tentang sebuah waktu
Disaat ia tengah dalam pergulatannya merampungkan teori relativitasnya.

Suatu ketika ia pernah menemukan, bahwa sang waktu adalah seekor burung bulbul,
yang dapat ditangkap dan dikurung dalam sebuah guci.
Atau juga sebuah fluida yang dapat melenceng dan berbelok tepat di samping ibu yang tengah menciumi anak-anaknya.

Ia pernah menjadi sebuah paralel, yang membuat masa depan dan masa lalu dapat muncul secara bersamaan.
Atau juga menjadi sesuatu yang dapat terhenti begitu saja, ketika ia menemukan sepasang kekasih tengah menghabiskan waktunya bersama.

---

Itu mungkin hanya sebuah mimpi.

Tapi bagaimana jika untuk sebuah mimpi sekalipun, Einstein benar?
Bahwa waktu adalah sebuah relativitas.
Bahwa waktu sesekali telah melakukan sebuah kecurangan.

Bergerak cepat atau melambat. Berbelok atau membeku.
Tanpa pernah kita ketahui setelahnya, terjadi pada waktu-waktu kita.

Lalu siapa yang akan mengira ini?

Bahwa berkali-kali dunia sempat terhenti untuk pertemuan-pertemuan kita.
Bahwa mungkin ratusan musim, ribuan kali rotasi atau bahkan jutaan kali revolusi telah melampaui kita dalam setiap perbincangan kita, setiap kesenangan kita, dan setiap kepedihan kita.

Bahwa triliunan butir hujan kemudian, telah saling berebut untuk turun lebih cepat.
Atas langkah kita, yang telah tiba pada puncak-puncak sejarah kita.

Bahwa di dalamnya, puluhan bintang telah berpindah ratusan tahun cahaya,
ketika tangan-tangan kita mulai saling merangkul dalam jeda untuk setiap kalimat,

"Kami bersamamu kawan, sekalipun langit yang menantangmu bertarung."

---

Dan itu semua menjadi sebuah penggalan kecil cerita hidup kita.
Setiap detiknya yang telah bermakna ratusan tahun.
Setiap langkahnya yang telah bermakna puluhan tahun cahaya.

Ia akan tinggal dan sesekali dibagikan.
Terus menemani kita dan terkadang menggoda kita mesra.

Terus menemani...

Hingga kemudian nama-nama kita mulai diperdengarkan.
Oleh Sang Pemilik Waktu.
Ia yang meminta kembali sisa waktu kita.

---

Dan belakangan aku baru mengerti tentang hari ini.

Bahwa seperti pada panas yang telah memaknai dingin, gelap yang memaknai terang, 
keburukan yang telah memanai kebaikan, serta permusuhan yang telah memaknai pertemanan,

sebuah perpisahan, akan memaknai sebuah pertemuan.

waktu-waktu kita...

Sebuah semesta yang pernah terlahir kembali untuk kita.

---






Narasi ini digunakan pada bagian akhir video perpisahan FSRD ITB angkatan 2009








Post a Comment