Tuesday, May 1, 2012

MAYDAY... MAYDAY... MAYDAY...




 “Serupa kesabaran terakhir para buruh di palang pintu pabrik
Serupa panen terakhir para petani penggarap
Serupa tengat miskin kota di ujung penggusuran
Serupa pilihan terakhir Pasifis di hadapan ancaman pasar
Serupa harapan mereka yang tak bisa lagi berharap
Serupa pilihan terakhir keluarga korban kekerasan negara
Serupa rahim setiap ibu yang melahirkan para kombatan yang 
menantang setiap tiran di titik nadir perhitungan”

Homicide – Tantang Tirani


sumber: cabiklunik.blogspot.com, editing : retorika-monolog
Hari ini aku memilih untuk duduk sedikit tenang. Kemudian menundukkan kepala.
Memperdengarkan kembali beberapa lagu Homicide. Lalu membuat tulisan ini.
Ya, dan aku terlalu jauh untuk menghadirkannya di ruang intensi ini.
Peristiwa Haymarket.
126 tahun sebelum hari ini.
Karena sepertinya aku masih tak terlalu tertarik melupakan hari ini. Cerita-cerita basi para penggerak negeri yang tak bosan diperdengarkan di telinga-telinga kami sejak lama. Tentang deretan mimpi yang dieksekusi mati. Atau juga tentang interupsi-interupsi yang dipotong birokrasi.
Dan tak berlebihan jika kami meneruskannya dengan menyanyikan nasionalisme ala otong koil.

       1 mei buatku adalah pembubuhan tanda tanya besar pada “kemanusiaan”. Penuntutan kesejahteraan dan keadilan. Yang jangan dengan dangkal kau terima sebagai kesamatinggian atau kesetaraan. Karena itu memang berbeda bodoh!
Ini mungkin hanya akan menjadi pengulangan. Terus mengulang karena sebelumnya masih tetap kau serupakan dengan rengekan anak-anak.
sumber : Pikiran Rakyat, editing: retorika-monolog
Tunggu!
Apa ada yang salah dengan rengekan anak-anak? Bukankah kau memang seorang ayah? Yang bersama ibu pertiwi mengasuh kami?
Ibu memang terkadang marah dengan perilaku kami. Tapi kami melakukannya karena kau tak memberi kami makan yang cukup, sedang kami telah melakukan semuanya. Membangun gedung-gedungmu, menumbuhkan padi di tanah-tanahmu, memberikanmu sumber devisa yang besar, mengayuhkan sepeda-sepeda kami untuk mengajari para penerusmu dan seterusnya.
Hey! aku tahu..
Kau melakukan ini karena kami memergoki kau berselingkuh dengan korupsi. Berpesta seks dengan statistika ekonomi pasar. Berjingkrak ria bersama hukum. Hingga memuntahkan anak-anak haram itu.
sumber : google, editing: retorika-monolog
Lalu kau biarkan kami mati di tanah orang, ditembaki peluru-peluru asing yang tertawa puas sambil berseru “bodohnya ayahmu”. Membiarkan setiap kami yang tergeletak lemas digerogoti kelaparan ditepian trotoar. Dikencingi anak-anak raja yang kemudian menginjak-injak setiap mimpi kami. Membiarkan anak-anak haram itu memerintah kami, memasakkan kami makanan berbumbukan arsenik untuk kami yang terlalu banyak bicara.
Dan kami sekarat.
         Lantas hanya bisa berdoa.
Supaya ibu pertiwi cepat pulang. Mengasihi kami.