Monday, June 13, 2016

JALAN TUA



Sesekali persimpangan itu nostalgis. Jalan tua berimbun kidung yang terkadang dengan serampangnya meretas mimpi ternyataku tentang menjadi merdeka sendirian; yang seandainya sedikit saja aku abai dari khidmatku berjalan ke depan, ia telah dengan mudah menyita sebelah langkah tegapku ini dan hanya menyisakan sebuah pincang untukku melanjutkan. Dihanyut angan di denyut kenangan. Ke sekian jarak yang terlampau rumit untuk bahkan dipecahkan oleh ribuan Khawarizmi sekalipun; ke ribuan samsara yang terlampau sengsara untuk bahkan dikejar tangguh cintanya sang suara kepada cahaya sekalipun. Dan seandainya itu terjadi di suatu ketika,

“Aku merindukan kita”
hembusku

Sebuah perjalanan lampau, saat kita masih menjadi kafilah berlalu yang menggonggi anjing yang tidak pernah berhenti menggunjing; saat berkarya masih jauh lebih menarik ketimbang menjadi kaya; sedang frasa ‘sukses yah’ hanya masih akan berlabuh di lembar ujian kuliah.

Di masa-masa itu rasanya, tak satu Cartenz, Elbrus atau bahkan Everestpun yang dapat dengan tepat memberikan kita sebuah kredo tentang kekalahan. Tak seonakpun dan tak seilalangpun; selain rumput kering pembaringan kita di sana. Tempat cita dan cinta tak pernah gagal meleburkan lamunan kita pada petualangan menjadi apa; dan keluh serta peluh, tak pernah gagal diluluh mantra yang paling tak terdustakan dari kalian.

“Suatu saat kita akan merindukan hari ini”
 lirihmu.



***
Post a Comment