Sunday, July 19, 2015

MELIRIK LIRIK

Saya cukup keliru soal mengira bahwa menulis lirik lagu adalah pekerjaan yang mudah; karena pada kenyataannya, terhitung sejak folks music project iseng saya dan kawan saya resmi direncanakan, telah 3 kali saya mencoba menciptakan lirik untuk beberapa lagu awal yang sudah mulai terbentuk tapi hasilnya selalu tidak memuaskan, terasa “kosong”, “gak ada nyawanya” dan sebagainya. Perlu diakui bahwa berbeda dengan proses menulis sastra atau artikel biasanya yang pada dasarnya memang berdiri secara otonom, lirik lagu diciptakan untuk disandingkan dengan potongan kue estetika lainnya yaitu musik. Maka selain pertimbangan ekspresi, ada pertimbangan lain yang sifatnya teknis seperti rima, ritme, keseuaian kosakata dan pertimbangan integrasinya yang perlu dipikirkan juga walaupun tak sekompleks video atau film. Hasilnya, perlu tiga kali penyesuaian bagi saya untuk akhirnya bisa tiba pada rangkaian tulisan yang bisa sedikit saya akui sebagai sebuah lirik.

#LirikPertama
Di penghujung Juni lalu, saya mendapat undangan menjadi pembicara di salah satu acara di Surabaya sebagai seorang independent filmmaker. And for the sake of the joy, saya mengundang beberapa kawan lainnya untuk ikut, serta memilih mobil pribadi sebagai moda transportasinya dengan pertimbangan fleksibilitas perjalanan. Hasilnya tepat, perjalanan tidak pernah sedikitpun terasa membosankan, dan suatu saat, ketika kami merasa perlu menepi untuk sekadar berfoto atau membeli jajanan khas, kami bisa menepikan kendaraan kami kapan saja. Termasuk menepikannya saat kami mencapai sebuah tempat menakjubkan di daerah Pati Jawa Tengah, sebuah dataran sawah yang terhampar luas di puluhan kilometer jalan kami; senyap, sangat puitis; dan menjadi semakin syahdu saat sisa-sisa matahari terbenam masih terlihat membekas di ujung-ujung langitnya. Sangat menakjubkan.



Beberapa minggu setelahnya, saya kembali dengan usaha saya untuk menuliskan lirik. Pengalaman spiritual yang menakjubkan itu menjadi perbendaharaan emosi terbesar saya yang saya rujuk kali ini. Hasilnya? tidak terlalu buruk. Walaupun terasa masih meraba-raba, tapi paling tidak, menurut saya kali ini ada “sesuatu” di dalamnya hehe. Dan barangkali karena alasan historis, entah bagaimana saya merasa mendokumentasikan lirik pertama ini di sini menjadi cukup penting hehe :D

So this is it...  

LANGGAM LEMBAYUNG

Song #1
Di kala jingga
Melantun barat
Sejumput cinta
Menyulam arah

Lembayungku...

Di ujung senja
Tersirat pinta
Tuk menantinya
Kembali kelak

Lembayungku...

Reff :
Segera pulang
Kelana mega
Nafasku hilang
Di tampuk rimba

Song #2
Di jelang petang
Menderu haru
Kau gemintang
Semesta syahdu

Lembayungku...

Reff :
Segera pulang
Kelana mega
Nafasku hilang
Di tampuk rimba

Segera pulang
Sajak senduku
Rinduku berang
Diganggu pilu


 ***
Post a Comment