Sunday, March 23, 2014

PETANG DI HARI SABTU

Sabtu sore minggu lalu, sebagai salah seorang penerima beasiswa, saya diundang oleh para pendonor dan lembaga pengurus ikatan orangtua mahasiswa kampus untuk menghadiri suatu pertemuan di sebuah café di bilangan Dago. Walaupun sebetulnya saat itu saya sudah berjanji untuk membantu kawan saya yang hendak sidang dua hari berikutnya, dan sebetulnya juga saya pun tidak begitu tertarik dengan pertemuan yang nampaknya hanya akan berupa basa-basi itu; tapi kenyataan bahwa saya sedang membutuhkan dana untuk sebuah project film, mengharuskan saya untuk datang ke sana mengingat bahwa pertemuan tersebut bisa jadi adalah kesempatan terbesar saya untuk bertemu dengan para konglomerat yang mungkin bisa menjadi donatur project saya nantinya. Maka akhirnya saya memutuskan untuk berada di sana, di antara sembilan mahasiswa, enam pendonor dan tiga pengurus lembaga itu.

Kami memesan makanan, memperkenalkan diri, mulai berbincang kecil; dan pada satu bagian obrolan, salah satu pengurus lembaga menceritakan berbagai macam pengalamannya menghadapi mahasiswa. Salah satu yang mengejutkan, selain cerita tentang terbongkarnya mahasiswa petualang beasiswa berpenghasilan lebih dari 10 jt per semester, adalah kisah tentang seorang anak tukang becak dari daerah Jawa Timur yang sampai saat ini masih menjadi mahasiswa ITB. Begitu lulus sekolah menengah, untuk hanya bisa membeli selembar formulir ITB yang memang relatif lebih mahal di banding formulir PTN lainnya, ia harus mengumpulkan uang dengan menjadi kenek bus kota selama satu tahun. Dan setelah diterima pun, untuk bisa membayar biaya kuliah dan bertahan hidup di Bandung, ia juga masih harus berjuang merangkak dari beasiswa ke beasiswa, menjadi seorang pengajar les dan bahkan menjadi seorang buruh cuci di beberapa rumah. Tapi di samping itu semua, lebih mengejutkan ketika tahu bahwa di tengah keterbatasan fasilitasnya itu, waktu-waktunya itu, semester lalu ia masih mampu mendapatkan IP 3,85. Sesuatu yang akan membuat kalimat “IP bukan segalanya” nampak hanya menjadi pembenaran untuk anjing-anjing pemalas saja buatku.

Itu hanyalah salah satu diantara kisah-kisah dari pengurus lembaga; selain kisah tentang anak seorang penjaga SD yang seringkali bolos kuliah lantaran tidak memiliki ongkos, kisah seorang anak petani, seorang yatim piatu dan lain sebagainya; yang hari itu menghantam pikiran saya. Memukul malu niatan awal saya dan menjadi jauh lebih keras ketika sadar bahwa kisahnya hadir di antara kenyataan-kenyataan ITB hari itu; deretan mobil mewah milik mahasiswa yang semakin menyesakkan, biaya pendidikan yang terus meningkat, dan wajah-wajah mahasiswa yang nyaris tak berbeda dengan wajah-wajah kampus sebelah. Elitisme itu, menarik saya menuju sebuah opini yang mengatakan bahwa “ITB telah kehilangan kemistikannya”.  Ia tidak lagi menjadi tempat jutaan mimpi pelajar-pelajar tangguh berlabuh. Alih-alih itu, ia kini hanya diisi oleh pecundang-pecundang yang ingin bersembunyi di balik segala reputasi cerah sang gajah dan lalu dengan arogansi “aku pemenang atas 10 anak paling cerdas lain“ nya, merasa layak mendapat segala sanjungan sekalipun yang dilakukannya hanya nongkrong tidak jelas.

Pada akhirnya, kejutan kisah itu, telah memberi saya sedikit kebingungan bersikap. Antara miris atas kesulitan yg dimiliki kawan-kawan itu, atau senang karena artinya kampus ini belum kehilangan mahasiswa-mahasiswa tangguhnya. Tapi entah apapun, hari itu kisah-kisah itu benar-benar telah menampari saya dengan telak; dan barangkali juga menampari anda serta siapapun yang menolak untuk bertaruh lebih pada sesuatu, mimpinya dan keyakinannya. Kisah-kisah itu, lebih dari sekedar obrolan kecil seorang petugas lembaga beasiswa, ia menjadi alasan terbaik yang pernah saya dapatkan untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan apapun. Bahwa ketika kita masih saja merengek, masih saja beralasan untuk tidak bertarung bahkan untuk dirinya sendiri sekalipun; kawan kita yang lain, masih harus merangkak, bertaruh di jalanan untuk membeli sebuah kesempatannya.


***
Aku melihat ke dalam tasku. Beberapa dokumen project yang sebelumnya ingin aku perkenalkan, nampak akan menjadi hal yang paling memalukan di dunia ini jika aku benar-benar menggunakan isi saku pendonor beasiswa ini untuk merealisasikannya.

Aku menahannya dan terus berpikir.
Nampaknya aku memang harus belajar merangkak.
Post a Comment