Monday, October 14, 2013

BEYOND THE SCENE



Cukup sulit menemukan waktu untuk membuat postingan blog dalam beberapa minggu belakangan ini. Selain beberapa kesibukan akademik yang banyak menyita paksa waktu-waktu dan tenaga saya, kegiatan-kegiatan lain diluar itu  - yang juga rupanya berhubungan dengan penulisan dan story telling – ikut menghabiskan ide-ide saya untuk membuat sebuah tulisan. Dan salah satu kesibukan gila itu adalah membuat sebuah film pendek.

Terhitung kurang lebih sejak dua minggu terakhir di bulan September, hingga saat tulisan ini dibuat, proses pembuatan film itu sudah dimulai dan bahkan masih berjalan. Sepanjang proses itu, agaknya saya dapat mengatakan bahwa pembuatan film tersebut - sekalipun hanyalah film dengan durasi yang mungkin tak lebih dari 15 menit – adalah film terberat yang pernah saya dapatkan sepanjang keterlibatan saya dalam produksi video dan film manapun. Selain alasan-alasan teknikal yang terus muncul seiring tingginya tuntutan kualitas, alasan-alasan moril yang banyak menciptakan letupan-letupan emosional, juga menjadi alasannya. Pada bagian terparahnya, keduanya kadang membuat saya menjadi terlalu melankolik dan dramatik. Terlebih lagi jika mengingat bahwa menyutradarai sebuah film adalah sesuatu yang paling ingin saya lakukan dalam sepanjang hidup saya, sejak lama sekali.

Dan barangkali karena keterlibatan emosional saya yang sangat besar di dalamnya itulah, saya jauh lebih bisa memaknai banyak hal disitu. Terlebih lagi adalah soal anak-anak.

***

Kebutuhan akan kehadiran anak-anak dalam film pendek yang tengah saya buat ini, menuntut saya untuk bolak-balik berurusan dengan banyak anak berbagai usia dari dua komunitas yang berbeda. Komunitas pertama adalah lembaga non formal yang berada di bilangan dago pojok. Sedangkan yang kedua adalah komunitas anak-anak jalanan yang dikelola oleh sepasang suami istri di daerah dago bagian atas. Dan menariknya adalah, keduanya memiliki kejutannya masing-masing, yang mempertemukan saya pada titik-titik yang saya definisikan sebagai kegagalan saya dalam film ini. Anak-anak dago pojok yang sangat liar dan sulit diatur menjadi kejutan pertama. Sedangkan kejutan kedua datang dari komunitas berikutnya ketika saya harus berhadapan dengan seorang idealis garis keras berkecenderungan kiri yang menolak mentah-mentah skenario film yang saya tawarkan; ia seorang nihilis, tidak mempercayai nilai-nilai apapun, termasuk nilai-nilai dalam film ini yang dia bilang hanya omong kosong saja. Pada satu bagian pembicaraan, ia bahkan pernah menuduh saya hanya mengeksploitasi anak-anak jalanan saja. Mengejutkan sekali!

Tapi bukan kejutan-kejutan itu poinnya, walaupun juga keduanya pun sebetulnya dapat menjadi suatu statement, tapi maksud saya, proses panjang yang telah saya lalui tersebut; berhadapan dengan berbagai anak dengan latarbelakang ekonomi, sosial dan budaya yang berbeda-beda; mengenal karakter mereka; berbicara dengan mereka, beberapa tentang prestasi mereka, hobi mereka, perkelahian, kondisi keluarga, dunia jalanan, dan sebagainya; secara tidak sadar memberikan saya sebuah rangsangan berpikir tertentu. Saya menjadi sering memperhatikan setiap anak-anak kecil yang saya temui, di mana saja. Kapan saja dan tanpa terlewat. Memperhatikan apa saja yang mereka lakukan. Menangkapi citra-citra mereka sebagai sebuah potongan adegan yang siap dimainkan di hadapan saya.

Ia berupa seorang anak perempuan yang menciumi dengan kagum bunga-bunya yang tengah dijualnya di sebuah pinggiran jalan; Ia anak yang tengah bermain tablet, di depan rumahnya saat ayahnya tengah berbincang kecil dengan tetangganya; Ia sepasang adik dan kakak yang nampak belum genap berumur 5 tahun, berlarian di balik-balik mobil yang tengah berhenti, di sela-sela mengamennya; Ia pemulung kecil yang memasuki sebuah kampus elit, sedang mengumpulkan sampah-sampah plastiknya dan tersenyum saat seseorang menyapanya; Ia bocah laki-laki yang tengah sibuk dengan mainannya, tatkala sang ibu masih perlu menikmati satu menu favoritnya lagi; Ia anak penjual tisu, yang sedang memperhatikan sebuah keluarga kucing tengah menyantap sisa makanan di bawah meja kantin; dan ia seorang anak laki-laki berkaos Persib, yang tengah membuat sebuah gambar di atas aspal jalan dengan kapur yang baru saja ia temukan.

Dan saya terus memperhatikan itu. Tanpa tahu apa yang sedang saya cari dari mereka. Apa yang sedang saya nikmati dari mereka. Sesekali waktu, lagu sore di tugu pancoran milik iwan fals membawa pikiran-pikiran saya berlabuh pada persoalan-persoalan sosial atau juga ekonomi tentang mereka. Kadang juga ia muncul sebagai sebuah kegelisahan atau kemarahan, saat kegagalan para orang tua terlalu dapat terlihat jelas untuk disalahkan. Atau kadang juga, ia menjadi sebuah kesadaran bahwa pada titik-titik tertentu anak-anak kecil buat saya nampak seperti sesuatu yang memiliki frekuensi yang sama. Pemimpi-pemimpi besar, manusia-manusia yang tak mengenal konsep kegagalan, sebuah keceriaan,; sesuatu yang selalu ada sekalipun dengan kondisi, latarbelakang dan nasib yang berbeda.

Tapi ringkasnya, dengan memperhatikan mereka seperti itu, pikiran saya seperti dibuat menjelajahi banyak hal. Melayang-layang di bagian yang senyap, hingga menukik ke bagian-bagian yang lebih radikal dan tajam. Semuanya bercampur dan menjadi jauh lebih emosional. Terlebih jika mengingat bahwa anak-anak kecil ini, suatu saat akan tumbuh menjadi orang-orang dewasa. Para pengisi peradaban, yang di tangan merekalah, dunia berikutnya akan dibentuk. Pembaharu, saat orang-orang tua telah sebelumnya mengacaui dunia. Dan di saat–saat seperti itu, entah bagaimana, saya seperti ingin sekali merendahkan kepala saya dihadapan anak-anak kecil ini. Menciumi kaki-kaki kecil mereka sambil terus memohoni mereka.

“Tumbuhlah dengan baik dik.
Aku bertaruh dunia padamu”


***


Kadang saya pun masih berpikir, ini mungkin hanya proses pembuatan sebuah film saja. Bagian yang terlalu dibuat hiperbolik darinya. Tapi disisi lain saya pun menyadari betul bahwa makna mendalam dari sebuah proses, apapun itu -- saat ia telah dapat dikatakan sebagai bentuk pendewasaan bagi siapapun yang terlibat didalamnya -- muncul pada kesadaran-kesadaran seperti ini. Saat kita telah dapat melihat jauh ke balik hal-hal yang ada di depan kita. Lapisan-lapisan terdalam lainnya, yang menempai kita, hingga mengantarkan kita pada temuan-temuan yang mencerahkan darinya. Sesuatu yang menembus jauh dari definisi karya itu sendiri. Sebuah cara kita untuk memaknai kehidupan kita.


Post a Comment