Saturday, July 5, 2014

CUL DE SAC

“Fasis yang baik adalah fasis yang mati”
Homicide – Puritan


Pemilihan presiden tinggal menghitung hari. Timeline sosmed tempat self-branding kita saling berpacu, kini makin sesak dijejali debat-debat kusir yang semakin sporadis. Terus menggila dan semakin mirip gonggongan ketika ejekan, cacian dan makian meminta tempat lebih di dalamnya. Inilah saat-saat ketika batas nalar kita sedang digetarkan, kewarasan kita sedang mencari kembali pengertiannya; dan kini, ketika ia tiba pada video “nasionalis” ala ahmad dani, bentrokan di ujung kampanye atau juga keberpihakan sebagian media kepada salah satu sudut ring, saya rasa kita tidak perlu takut lagi menghadapi kurs rupiah yang sedang turun saat ini. Karena kenyataannya, melewati pilpres kali ini justru jauh lebih berat untuk dihadapi negeri ini ketimbang apapun.

***

Entah bagaimana, totalitarianisme, komunisme, liberalisme atau rasisme tiba-tiba saja menjadi diktum-diktum besar yang dirayakan di antara tumpukan informasi kita terkait pilpres hari ini. Saya tidak tahu apakah ini biasa terjadi di periode sebelum-sebelumnya atau tidak, tapi yang jelas, bayangan bahwa ledakan sosial (atau apapun) yang bisa terjadi kapan saja karenanya, menjadi bagian paling mengerikan bagi saya; mengingat juga bahwa isu-isu tersebut sebagaian besar adalah jejak hitam sejarah kita, trauma-trauma kita. Dan celakanya, trauma itu muncul di sebagian kita dalam bentuk ekstrimnya, menghasilkan fanatik-fanatik buta yang nyaris kehilangan logikanya ketika justru, kesadaran nalar sedang sangat dibutuhkan untuk mengahadapi pilpres kali ini.  

Tidak berhenti sampai disitu, bagi kita – peradaban2 plastis ini, manusia2 serba cepat ini – dunia virtual bernama internet ikut memanasinya. Sosial media yang sebelumnya telah merebut paksa pengertian tentang realitas nyata, kini kembali memaksa kita untuk menjadikannya sebuah medan pertempuran politis. Tidak ada yang salah dengan itu sebetulnya, karena paling tidak gejala itu bisa menunjukkan bahwa kesadaran politik kita sedang sangat meningkat jauh. Tapi yang jadi masalahnya adalah, sebagian kita lupa bahwa peleburan ruang privat dan publik serta kebebasan radikal yang ditawarkannya; ketidakhadiran sistem editorial, kode etik serta otoritas pengawas di dalamnya, telah menempatkan internet sebagai ruang tempat informasi prematur banyak bertaburan (termasuk juga dengan blog ini). Hasilnya, kebanyakan dari diskusi kita terjebak dalam aktivitas timpa-menimpa informasi yang sifatnya kadang sangat subyektif dan keabsahannya perlu dikaji lebih jauh.

Selain itu, dua gejala besar itu juga seringkali dicerna tanpa menyadari bahwa hiperbolisme – sebagai konsekuensi dari sebuah momentum – telah menjadi komponen utama di banyak informasi, yang sudut pandangnya bergantung pada kepentingan di baliknya. Judul-judul provokatif, isi yang dilebih-lebihkan serta berita-berita gak penting terkait masing-masing kandidat menjadi bentuk-bentuk hiperbolisme yang sering saya temui. Dan parahnya lagi, informasi-informasi itu, kadang dicerna dan disimpulkan dengan pola nalar kita yang dalam buku Rekayasa Sosial (Rakhmat, 1999) disebut dengan kesalahan berpikir atau intellectual cul de sac. Salah satu yang sering saya temui adalah fallacy of dramatic instance (over-generalisation), penggunaan satu dua kasus untuk mendukung argumen yang bersifat general atau umum (Rakhmat, 1999 : 5). Misalnya saja, ada orang yang mengatakan bahwa “Orang Islam itu jorok-jorok, buktinya Indonesia yang mayoritas muslim, orangnya jorok-jorok” atau “Nazi dan fasisme itu tidak jahat untuk saya, maka pastilah ia juga tidak jahat untuk Indonesia” berarti sudah masuk ke dalam fallacy of dramatic instance. Dan contoh lain dari kesalahan berpikir tersebut adalah,

Ryan adalah mahasiswa ITB.
Irvan adalah mahasiswa ITB.
Ryan itu ganteng
Berarti Irvan juga ganteng



Saya tidak bermaksud untuk menyerang mereka yang tengah giat menyampaikan pandangan politiknya di media sosial atau apapun, karena tentu saja itu adalah bagian dari partisipasi demokrasi kita. Tapi fanatisme yang semakin hari semakin menggila, cukup menjengkelkan dan membuat saya gelisah. Kita sama-sama hidup di dalam gemerlap post modernisme ketika ketidakpastian menjadi satu-satunya kepastian; ketika institusi-institusi pemegang otoritas kebenaran kita telah sama-sama runtuh. Dan itu artinya, di antara kita tidak pernah ada yang berhak memonopoli definisi kebenaran apapun sambil kemudian menganggap yang lainnya adalah salah. Tapi ketika itu tetap terjadi, ketimbang kesaksian Allan Nairn tentang dugaan fasisme yang dianut salah satu kandidat, ketimbang bau tengik orde baru yang semakin tercium tajam, saya jauh lebih ketakutan jika masing-masing kita telah mulai saling mengkafirkan mereka yang berbeda pendapat, telah saling memaksakan pemikirannya dan mulai saling membunuh atas itu.

***

Kita telah sama-sama mengetahuinya, sangat keliru jika masa depan negeri ini hanya ditentukan oleh satu orang saja. Siapapun yang terpilih nanti, negara tetap tidak akan menjadi apa-apa tanpa keterlibatan kita. Dan siapapun yang terpilih nanti, saya harap kita dapat sama-sama meyakininya, bahwa hanya di tangan kita, masa depan kita masing-masing ada.




Post a Comment