Tuesday, April 22, 2014

NARASI : NOL DAN SEMBILAN

Apa yang membuat seseorang menjadi sangat berarti? 
Patut disanjung dan layak untuk dikenang?

Apakah ia harus berupa lembaran teks proklamasi? 
Yang dibacakan di sebuah jalan Pegangsaan?

Ataukah juga ia harus berupa pekikan revolusi? Temuan-temuan ideologis?
Atau juga harus berupa proyektil yang menghantam tempurung kita,
Saat kita tengah mengepalkan tangan dalam sebuah long march menuju senayan?

Karena di tempat ini, ketika aku menyadari 
bahwa setiap makna akan selalu lahir bersama apapun yang ada, 
sebuah pengertian lain tentangnya, tiba dihadapanku

Bahwa barangkali, pada masing-masing tempatnya,
 setiap manusia layak untuk dikenang. Selalu patut untuk disanjung. 

Bahwa setiap manusia, telah menjadi berarti, 
pada setiap pertama kali mereka pernah berjabat tangan.

Dan pengertian-pengertian itu, menjadi sesuatu yang selalu aku temui di sini. 
Di segala hal, yang pernah kita lalui bersama-sama. Di setiap penggalan waktu kita.

Tanah-tanah itu. Sebuah tempat saat kita pernah berjalan mendekat. 
Membangun sebuah cerita, dan mulai meneriakkan kalimat-kalimat menggetarkan itu.

Kita adalah nol dan sembilan. Tempat angka terendah, dan angka tertinggi bisa duduk bersama. 
Membentuk sebuah deretan tempat segala kemungkinan nilai dapat muncul di dalamnya.

Kita bukan anak-anak penerus tahta. Tempat segala keagungan, ditentukan oleh garis keturunan. 
Kita adalah kelahiran yang ganjil. Tempat hierarki yang telah mendefinisi ulang kebenaran, 
tak jauh lebih penting dari segala perbedaan yang selalu kita terima bersama.

Kita bukanlah para pemenang. Yang memilih tidur karena merasa segalanya sudah berakhir. 
Kita adalah para pejuang. Ketika pertarungan selalu menjadi satu-satunya alasan manusia untuk hidup.

Kita tidak akan pernah menjadi mereka. Kita bukan mereka. 
Kita adalah nol dan sembilan.

***

Hari ini, di pintu yang sama saat kita memulai segalanya. 
Masing-masing kita kembali melewatinya. Kembali berjabat tangan seperti waktu itu.

Tapi bukan untuk memulai keberartian kita. Kita berpamitan. 
Bahwa di titik ini, setiap dari kita memang telah seharusnya berlari dan menjadi arti yang lain.

Melesat menuju semesta. 
Ke sudut-sudut langit yang mungkin tak akan lagi sama.

Terima kasih atas waktu-waktu itu.
Cerita-cerita itu. Dan segala maaf itu.

Senang bisa mengenal kalian semua.


 ***



*narasi ini digunakan untuk video dokumentasi wisuda April FSRD ITB angkatan 09


Post a Comment