Tuesday, December 10, 2013

HARI KE TUJUH DI BULAN DESEMBER

Dan memang selalu mengharukan, ketika kita mendapatkan orang-orang di sekitar kita, yang bahkan kita tidak pernah mengetahui apakah kita telah melakukan sesuatu untuk mereka atau tidak, telah meluangkan waktunya untuk kita. Sekedar mengambilkan pulpen kita yang terjatuh dari meja kuliah kita mungkin, membantu beberapa pekerjaan kita, atau sekedar memberikan ucapan selamat di hari ulang tahun kita mungkin. Tapi apapun itu, sekecil apapun ia, ada hal yang barangkali perlu kita sadari dari itu semua. Bahwa sekalipun hanya dalam hitungan sepersekian detik, mereka tetap telah membuang waktunya untuk hal yang menjadi kepentingan kita. Hal yang mungkin sama sekali tidak memberikan keuntungan apa-apa untuk mereka tapi tetap mereka lakukan.
Hal-hal seperti itu, baru saja benar-benar saya sadari di belakangan hari ini. Di hari kelahiran saya. Saat mendapatkan beberapa kawan telah meluangkan waktunya, membuat kejutan kecil untuk saya. Memberikan ucapan selamat dan mendoakan hal-hal yang menjadi mimpi saya. Merekalah manusia-manusia terbaik yang pernah saya kenal.

Muhammad Vilhamy, yang lebih dikenal dengan sapaan Ambon, menjadi orang yang pertama mengucapkan selamat atas kelahiranku, berikutnya Averroes lalu Agathon. Mereka kawan terdekat saya. Kawan berbagi mimpi saya. Dan disusul ucapan-ucapan menggetarkan lainnya.

“... semoga kedepannya maneh nemu apa yg bikin maneh terus passionate, entah itu film, jurnalistik ato apapun. Dan tetep humble yah hehe...”   – Muhammad Fajrur, (partner film, ia termasuk kawan yang cukup tangguh)

“... semoga menjadi sutradara sukses bareng urang nya.. hehe. Dan segera mendapatkan calon istri nyak heheh” – Dhani Rahman (dengannya, saya membuat film pendek pertama saya)

... jadilah apapun yang kau mau” – Argya Dhyaksa (Kawan tergila yang pernah kenal. Bersamanya saya membuat satu judul video yang cukup fenomenal, komplikasi akhir jaman)

“... semoga cita-citanya jadi orang sukses tercapai.”  - Rowland Asfales (Kawan pertama saya di bangku kuliah)

“... semoga berbahagia selalu” – Happy Mayorita (dengannya saya terlibat dalam beberapa project teater dan film)

“... sukses selalu van semoga tetap melahirkan film-film lucu bermutu dan lancar segala-galanya, mungkin jodoh dan kuliah dan karir dan semua dan tentu saja disayang Tuhan...” – Resty Herwita (selain ia adalah pacar kawan saya, ia juga adalah talent terbaik yang pernah saya dapatkan dalam Whispering Box, film pertama yang saya sutradari)

“... semoga film lancar, semua lancar jodoh, karir, hidup, semuanya pokoknya yang baik-baik... Happy birthday bapak sutradara :)”  – Resty Herwita, Adinda Januardani, Pandu rahadya (Adinda adalah asisten sekaligus alasan pertama mengapa film Whispering Box harus saya rampungkan; Pandu adalah junior saya yang paling tangguh dan paling bisa saya andalkan. Pada beberapa project video dan film, saya selalu melibatkannya)

Selain kue yang diberikan oleh Resty, Adinda dan pandu untuk saya sore tadi, tepat di tanggal 7 lalu, di sela-sela rapat pameran pemuda setempat pun, beberapa kawan lain telah menyiapkan kue untuk selain merayakan ulang tahun saya, juga untuk merayakan ulang tahun pameran pertama pemuda setempat yang kebetulan memang jatuh di tanggal yang sama. Mereka Sandy Adithia (Sang ketua), Yosefa pratiwi (salah satu calon seniman sukses), Ari respati (kurator muda berbakat), Puja Anindita (anak dari legenda kritikus seni Indonesia) dan Satria Prabhawa (sang multi-talenta).

Waktu-waktu itu, hal-hal yang mereka luangkan itu, telah berhasil membuat apa yang menjadi pikiran saya nampak konyol. Bahwa ketika saya merasa jika sebuah kelahiran adalah sesuatu yang tidak perlu dirayakan - yang bahkan hingga kini pun saya masih merasa apa yang dikatakan oleh Gie tentang menjadi beruntung dengan tidak pernah dilahirkan adalah benar – disaat yang sama, orang-orang ini, datang dan membuat seolah-olah kelahiran saya adalah sesuatu yang sangat besar dan patut untuk dikenang. Mereka, telah mengingatkan saya kembali. Bahwa barangkali tidak pernah ada kelahiran yang sia-sia. Ia tidak perlu menunggu hingga sejarah menuliskannya di buku-buku pelajaran sekolah atau juga pada batu-batu prasasti supaya ia dapat dikatakan sebagai kelahiran yang layak untuk dikenang. Setiap manusia membentuk sejarahnya masing-masing. Setiap mereka mempunyai arti pada masing-masing tempatnya. Dan atas hal-hal yang telah saya sadari itu - keharuannya, waktu-waktu mereka -  membuat saya betul-betul merasa untuk tidak terlalu cepat memilih mati. Mimpi-mimpi itu, mereka yang layak untuk diperjuangkan.  

***
Dan pada akhirnya, untuk semua yang telah
mereka lakukan itu, doa-doa itu, saya hanya bisa berharap
riwayat yang pernah saya baca itu benar. Bahwa

“Pada setiap doa yang kita ucapkan untuk orang lain,
Akan ada seribu malaikat yang mendoakan kembali untuk kita”

 Mendoakan mereka.


Post a Comment