Saturday, May 25, 2013

MANUSIA YANG TIDAK BERMIMPI


Saya berani bertaruh bahwa kita pasti pernah bermimpikan menjadi insinyur, dokter, tentara, astronot, pilot, atau apalah. Ya, kita pernah mempunyai mimpi! Tapi hari itu, saya menemukan kejutan lain. Seseorang yang hanya tersenyum diam ketika kutanya tentang apa yang menjadi mimpinya selama ini. Kematian mimpi.

Tidak mengherankan jika banyak yang tidak bertahan. Sebanyak 460 komentar negatif yang dikabarkan Jack Canfield dalam penelitian 1982-nya itu, pernah terbukti diterima rata-rata setiap anak perharinya. Umpan balik negatif yang terus menerus diterima pikiran kita itu, menjadi cara yang sangat mematikan untuk membunuh suatu kepribadian. Dan kita kini menemukan satu bentuk lain, bahwa anak-anak, dalam proses pendidikan yang salah, lebih mirip seperti pohon-pohon besar dengan akar-akar yang kuat di pulau Solomon. Yang selanjutnya dirobohkan dengan cara yang sangat mengejutkan. Ya. Untuk merobohkan pohon-pohon besar dengan akar yang kuat, Melanesia, penduduk asli kepulauan Solomon memiliki cara yang unik, yaitu dengan mengelilingi dan memanjati pohon-pohon tersebut dan mulai meneriakinya dengan mantra-mantra kutukan. Aktivitas ini dilakukan selama berjam-jam dalam 40 hari. Dan hasilnya mengerikan. Perlahan-perlahan dedaunan pohon yang diteriaki tersebut mulai mengering. Dahan-dahannya mulai rontok. Lalu tak lama kemudian pohon itu akan mati.

Para Melanesia sangat mempercayai itu.
Berteriak akan membunuh jiwa dari suatu pohon.

Lalu bukankah itu tidak berbeda dengan apa yang telah kita temukan selama ini? Sesuatu yang barangkali pernah kita alami. Dulu mungkin. Saat kita masih menjadi pohon-pohon besar dengan akar yang kuat itu? Hingga pada gilirannya yang lain, seseorang “meneriaki” jiwa kita.  Guru-guru kita mungkin. Saat memarahi kita yang mengisi halaman belakang buku dengan gambar-gambar tangan kita. Atau saat mereka berteriak “bodoh!” pada kita yang lebih pintar dalam bidang olah raga ketimbang bidang matematika. Atau teman-teman kita barangkali. Saat mereka mulai meneriaki kita gila atas apa yang tengah kita lakukan. Dan bisa jadi juga orang tua kita. Saat mereka membuang mentah-mentah segala pilihan yang telah kita buat sendiri.

Beberapa mungkin pernah mengenalnya, Dr Masaru Emoto. Lewat penelitian seputar airnya, yang telah dibukukan dalam beberapa judul buku seperti “The Hidden Message in Water”, telah menunjukkan bahwa kristal air merespon setiap suasana dan perkataan yang dirangsangkan kepadanya. Perkataan negatif, seperti apa yang dilakukan Melanesia tadi, akan membentuk kristal air yang buruk, sedangkan perkataan positif akan menciptakan kristal air yang sangat indah bentuknya. Dan sialnya adalah, kurang lebih sebanyak 80% tubuh manusia adalah terdiri dari air. Maka saya harus mengulangi ini, bahwa kita adalah pohon-pohon besar pulau Solomon. Yang siap menjadi kokoh atau dirobohkan dengan teriakan-teriakan negatif para Melanesia itu.

Mimpi adalah kepercayaan. Sesuatu yang nilai pertaruhannya sama dengan hidup itu sendiri. Bahwa tak ada mimpi besar dengan akar yang kuat yang tidak dirobohkan para Melanesia. Apapun itu. Tapi sadari juga ini, bahwa kita tidak sepenuhnya pohon. Maka mantrailah diri kita sendiri! Hingga kristal air kita tak lagi menjadi buruk. Hingga fibrasi dan quanta semesta, serupa dengan frekuensi kita.

------------------------


'Lalu pikiranku kembali pada kawanku hari itu.
 Seseorang yang tidak lagi mempunyai keberanian untuk bermimpi. 
Ia pohon besar yang telah dirobohkan.'   













Sumber foto : Restu Taufik Akbar
Editor : Kontemplasi Diagonal
Post a Comment