Monday, March 25, 2013

KIDUNG KEPULANGAN


Padahal malam belum mencapai vertikalnya. Tapi sejak tadi, jalanan terus menawarkan kekosongannya padaku. Aku menerimanya. Dan sekali lagi. Pikiranku mengerucut ke belakang. 

Disana, tanah-tanah karbala tidak pernah bersih dari genangan darah. Dan perut-perut kosong selalu dapat kau temukan dengan mudahnya. Terlebih lagi, anak-anak yang menangisi kematian mimpi-mimpinya itu. Terus membelalakimu sepanjang hari. 

Aku terus menyaksikannya. Kenyataan-kenyataan yang tak pernah aku anggap adil nilainya. Mengganjali celah-celah otak yang kerap memaksaku meneriaki ketidakpedulian mereka. Anjing-anjing tolol. Bergerombol. Mengonggong argumen-argumen skeptis yang tak pernah berisi apa-apa selain pesimisme atas tercapainya kenyataan yang lebih ideal buatku.

-------------

Tapi entahlah kawan, 
atas apa yang telah aku saksikan itu,
segala kejahatan itu, kehancuran itu,
serta nilai yang tak pernah dapat aku terima pertaruhannya itu,

aku tetap mencintaiNya,
aku tetap merindukanNya.

Jadi tinggalkan saja aku.

Post a Comment