Saturday, September 22, 2012

MENCINTAI SESUATU


Pernahkah suatu saat kita tiba-tiba merasakan hal yang berbeda saat kita melewati sebuah jalan yang telah ratusan atau bahkan ribuan kali selalu kita lalui? Saat menuju sekolah, kampus atau mungkin saat kita menuju tempat kita bekerja? Melakukan aktifitas yang sama secara terus menerus atau mungkin hanya sebuah aktifitas biasa yang sebenarnya kita tidak pernah tahu apa-apa tentang ini? Untuk apa semua ini? Dan sesuatu apa yang tengah menunggu di akhiran ini?

Saya sering. Bahkan lebih pantas jika dikatakan ‘selalu’.

Sebagian orang mungkin butuh waktu yang lama untuk memulai kesadaran itu. Tapi sebagian yang lainnya lagi bisa memulainya saat ia pertama kali melakukan sebuah aktifitas atau bahkan sesaat sebelum ia melakukan aktifitas tersebut. Saya tidak pernah tahu apakah ini penting untuk orang lain atau tidak. Hanya saja saya tidak terlalu mau untuk terus menjadi seorang budak. Atas apa-apa yang tidak pernah saya ketahui.
 Jalaludin Rakhmat, seorang pakar komunikasi, menjelaskan tentang 3 jenis komunikasi perintah dilihat secara tingkatan otoritasnya. Antara majikan dengan budaknya, atasan dengan bawahannya, dan seorang yang terkasih dengan kekasihnya.
Ketika seseorang melakukan sebuah perintah tanpa berpikir tentangnya, ia sama dengan seorang budak yang mematuhi perintah majikannya. Pemahamannya adalah pemahaman paling rendah. Pemahaman fisik.
Lalu ketika seseorang melakukan sebuah perintah yang berdasar atas kesadaran logisnya, ia sama dengan seorang bawahan yang mematuhi perintah atasannya. Pemahamannya adalah pemahaman menengah. Pemahaman logika.
Sedang ketika seseorang melakukan sebuah perintah yang berdasar atas kecintaannya, ia sama dengan seorang yang terkasih yang mematuhi perintah kekasihnya. Pemahamannya adalah pemahaman tinggi. Pemahaman hati.  
Apa yang terjadi jika saya menyebut teori ini bukan teori komunikasi perintah? Tapi sebuah teori pemahaman manusia terhadap sesuatu. Terhadap apa yang dikerjakannya, apa yang dijalankannya dan apa yang dilaluinya. Atas ini, maka mereka yang tidak pernah mengetahui tentang apa yang tengah dikerjakannya, adalah seorang budak. Atau mungkin seandainya mereka bisa membuat pijakan kesadaran logika tentangnya maka mereka adalah seorang bawahan. Dan seandainya mereka bisa mulai mencintai apa yang dikerjakannya,  maka mereka adalah seorang kekasih atas pekerjaannya. Inilah yang dinamakan cinta. Sebuah pemahaman tertinggi dalam konsepsi sufistik timur. 
Maka memang tidak pernah ada yang salah dengan mereka, tukang becak yang telah mencintai kayuhan becaknya, para petani yang telah mencintai setiap cangkulan pada tanah-tanah majikannya, para guru yang mencintai pendidikan, atau juga para seniman yang mencintai pekerjaan seninya. Atas pencapaian pada penghayatan itu, pertanyaan-pertanyaan nihil, skeptis ataupun psimis yang terlalu sering bersarang di kepala seorang naïf seperti saya seharusnya sudah tidak pernah menjadi penting sama sekali lagi.

 Maka saya ingin menjadi seperti mereka.

Orang-orang yang mencintai sesuatu.



Post a Comment